LAMONGAN, iNewsLamongan.id - Ratusan bonsai bernilai fantastis membanjiri Alun-Alun Lamongan. Dalam Kontes dan Pameran Bonsai Nasional yang digelar Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Lamongan, sebanyak 682 bonsai dari berbagai daerah di Indonesia dipamerkan, termasuk koleksi yang ditaksir bernilai hingga Rp2 miliar.
Tak sekadar menjadi ajang kompetisi para pebonsai nasional, pameran ini juga menunjukkan bahwa bonsai kini berkembang menjadi karya seni bernilai ekonomi tinggi, bahkan menjadi incaran para kolektor dari dalam maupun luar negeri.
Ketua PPBI Lamongan, Suwanto, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membangkitkan semangat petani dan pehobi bonsai, khususnya di Lamongan, agar mampu menghasilkan bonsai berkualitas dengan nilai jual tinggi.
"Harapan kami, petani bonsai di Lamongan bisa mencontoh kualitas bonsai yang dipamerkan, kemudian mengembangkannya menjadi karya sendiri yang memiliki nilai ekonomi tinggi," ujarnya, Senin (29/6/2026).
Menurut Suwanto, sejumlah bonsai unggulan yang dipamerkan memiliki nilai lebih dari Rp100 juta. Bahkan, terdapat bonsai jenis santigi yang pernah ditawar Rp1 miliar, namun pemiliknya menolak karena baru bersedia melepasnya dengan harga Rp2 miliar.
Ia menjelaskan, nilai sebuah bonsai ditentukan oleh berbagai faktor, mulai dari usia tanaman, karakter batang, tingkat kesulitan pembentukan, hingga nilai seni yang dimiliki. Beberapa bonsai yang dipamerkan bahkan telah melalui proses pembentukan selama 40 hingga 50 tahun.
"Ada bonsai yang usianya mencapai 40 hingga 50 tahun. Nilainya terus meningkat seiring bertambahnya usia dan kualitas bentuk yang dihasilkan," katanya.
Suwanto menambahkan, bonsai jenis santigi kini menjadi salah satu primadona di kalangan kolektor karena memiliki karakter batang yang unik dan sangat cocok dibentuk menjadi bonsai berkualitas. Tanaman endemik Indonesia tersebut juga diminati kolektor mancanegara.
Selain menghadirkan kontes nasional, PPBI Lamongan memanfaatkan pameran ini sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Panitia berencana mengundang pelajar untuk mengenal seni bonsai sekaligus memahami potensi ekonominya.
"Kami ingin mengenalkan bonsai kepada generasi muda sejak dini. Bonsai bukan hanya tanaman hias, tetapi karya seni yang nilainya dapat terus meningkat dan berpotensi menjadi sumber penghasilan," ujar Suwanto.
Sementara itu, Ketua Panitia Pameran, Munawi, mengatakan proses penjurian dilakukan sebelum pembukaan resmi. Setelah itu, area pameran dibuka gratis untuk masyarakat.
"Selama proses penjurian memang sementara ditutup untuk umum. Setelah pembukaan, masyarakat dipersilakan masuk tanpa dipungut biaya. Kami ingin menghilangkan anggapan bahwa pameran bonsai itu eksklusif. Justru kami ingin masyarakat datang, melihat, dan semakin mencintai seni bonsai," katanya.
Pameran dijadwalkan dibuka secara resmi pada Selasa malam (30/6/2026) dan akan dihadiri PPBI Pusat, Bupati Lamongan, serta jajaran Forkopimda. Melalui kegiatan ini, PPBI Lamongan berharap lahir lebih banyak petani dan pebonsai berprestasi yang mampu menggerakkan ekonomi daerah.
Editor : Abdul Wakhid
Artikel Terkait
