PACIRAN, iNewsLamongan.id - PT PAL Indonesia menyiapkan operasional galangan kapal di Desa Sidokelar, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027.
Galangan yang sebelumnya merupakan fasilitas milik PT Lamongan Marine Industry (LMPI) itu diambil alih PT PAL setelah perusahaan mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk meningkatkan kapasitas produksi melalui akuisisi galangan kapal baru.
Ketua Tim PMN PT PAL, Uut Tata Wijaya mengatakan, sebelum menentukan lokasi, pihaknya melakukan kajian terhadap 16 galangan kapal di sejumlah daerah, di antaranya Batam, Kalimantan, Jawa Barat dan Semarang.
Menurutnya, galangan di Sidokelar memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari fasilitas yang sebelumnya memang digunakan sebagai galangan kapal, area sekitar 300 meter, hingga kondisi perairan yang dinilai cukup dalam.
"Sudah survei ke belasan lokasi, dari Batam, Kalimantan dan berbagai lokasi lain. Tapi yang cocok di sini, di Lamongan," kata Uut, Rabu (23/9/2026).
Untuk tahap awal, aktivitas galangan akan difokuskan pada perbaikan kapal. Berbagai jenis kapal dapat ditangani, mulai kapal kargo dan tongkang hingga kapal perang.
Bahkan, kondisi perairan di sekitar galangan dinilai memungkinkan untuk mendukung penanganan kapal militer berukuran besar, termasuk kapal selam.
"Untuk awal baru perbaikan, tapi nantinya juga ada pembuatan kapal baru. Kalau ada kebutuhan kapal baru, bisa dilakukan pembangunan di sini," ujarnya.
Uut menyebut potensi pasar jasa perbaikan kapal di Jawa Timur masih sangat besar. Berdasarkan data PT PAL, terdapat sekitar 22.891 kunjungan kapal ke Jawa Timur setiap tahun.
Namun, kapasitas galangan yang tersedia saat ini hanya mampu menangani sekitar 984 kapal atau sekitar 4,29 persen dari total kunjungan tersebut.
"Yang bisa ditangani di Jawa Timur tidak sampai lima persen. Maka dari itu, peluang pasar galangan repair di Jawa Timur masih sangat besar," jelasnya.
Selain membidik pasar Jawa Timur, PT PAL juga menargetkan kapal-kapal dari wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Keterbatasan fasilitas galangan di sejumlah daerah dinilai membuat biaya operasional dan distribusi kapal menjadi lebih tinggi.
Kehadiran galangan di Lamongan diharapkan dapat membuat layanan perbaikan kapal lebih dekat dan efisien bagi pelanggan di kawasan tersebut.
Dalam persiapan operasional, PT PAL menyatakan tidak akan melakukan reklamasi baru. Perusahaan memilih mengoptimalkan fasilitas yang telah tersedia di kawasan galangan.
"Jadi, kita tidak melaksanakan reklamasi lagi. Kita optimalkan apa yang ada di sini," kata Uut.
Dari sisi legalitas, sejumlah persyaratan juga tengah disiapkan, mulai legalitas aset, ruang darat dan laut, operasional hingga lingkungan.
Legalitas aset telah melalui proses serah terima dari PT LMPI kepada PT PAL. Sementara legalitas ruang darat dan laut, termasuk PKKPRL dan KKPRL, telah diproses. PT PAL juga telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) serta empat KBLI yang berkaitan dengan kegiatan usaha.
Untuk mengantisipasi dampak lingkungan, PT PAL menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
"Untuk potensi pencemaran, kita sudah mitigasi. IPAL dan lain-lain kita antisipasi, begitu juga ketika nanti sudah operasional," tegasnya.
Editor : Abdul Wakhid
Artikel Terkait
