Bukan Sekadar Cerita, Prasasti Ini Ungkap Jejak Awal Lamongan

Abdul Wakhid
Ilustrasi, gambar sejarah Lamongan di masa lalu yang ditemukan dalam prasasti kuno. (Foto: AI)

LAMONGAN, iNewsLamongan.id - Menjelang peringatan hari jadi ke-457 pada 26 Mei, Lamongan kembali menjadi sorotan dari sisi sejarah. Sejumlah temuan baru menunjukkan bahwa nama Lamongan kemungkinan sudah dikenal jauh lebih awal, bahkan sejak abad ke-13.

Hal ini disampaikan oleh pemerhati sejarah Lamongan, Supriyo. Dia merujuk pada Prasasti Sångå yang memuat penyebutan “Ing Lāmoṅan”, yang diyakini sebagai bentuk awal nama Lamongan.

“Penyebutan itu penting karena menunjukkan Lamongan telah tercatat dalam dokumen resmi pada abad ke-13, bukan sekadar muncul dalam cerita lisan,” ujar Supriyo.

Prasasti Sångå berupa dua lempeng perunggu yang kini tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Meski begitu, lokasi penemuan awalnya belum diketahui secara pasti. Kondisi ini, menurut Supriyo, cukup umum terjadi pada prasasti-prasasti Jawa kuno yang dibawa ke luar negeri pada masa kolonial tanpa dokumentasi lengkap.

Berdasarkan isi prasasti, wilayah asalnya diduga berada di kawasan pesisir utara Jawa Timur, yang dulunya merupakan bagian dari Janggala. Wilayah ini mencakup area yang kini meliputi Lamongan, Gresik, hingga Sidoarjo.

Tidak hanya menyebut nama tempat, prasasti tersebut juga memperlihatkan adanya sistem pemerintahan lokal. Istilah seperti “juru samya” menunjukkan keberadaan pejabat atau pengelola wilayah pada masa itu.

Selain itu, ditemukan pula catatan mengenai pemberian hadiah berupa kain (wdihan) serta satuan mata uang (māṣa). Hal ini menjadi indikasi bahwa aktivitas ekonomi sudah berkembang dan terorganisasi.

Dalam prasasti juga tercantum istilah “panugraha śrī jaṅgala” yang menguatkan dugaan bahwa Lamongan merupakan bagian dari jaringan wilayah Janggala yang masih eksis, meski dalam bentuk yang berbeda pasca masa Airlangga.

“Selama ini Janggala sering dianggap hilang. Padahal, dari berbagai prasasti, termasuk Mula-Malurung, terlihat bahwa wilayah ini masih ada, kemungkinan sebagai bagian administratif dari kekuasaan yang lebih besar,” jelasnya.

Supriyo juga menyinggung kaitan historis tersebut dengan awal berdirinya Majapahit. Dalam Prasasti Balawi (1305), terdapat nama Śrī Harsawijaya yang kerap dikaitkan dengan Raden Wijaya.

Namun demikian, ia mengingatkan agar temuan ini tidak langsung dijadikan klaim kebanggaan tanpa pemahaman konteks.

“Menyebut Lamongan sudah ada sejak abad ke-13 memang tidak keliru, tapi harus dilihat secara kritis. Nama bisa sama, tetapi struktur wilayah dan identitasnya bisa berubah,” tegasnya.

Menurutnya, penemuan ini justru menjadi peluang untuk memperkuat pemahaman sejarah berbasis data, sekaligus memperkaya identitas daerah secara lebih ilmiah.

“Sejarah itu tidak sederhana dan tidak selalu linier. Kalau dipahami secara tepat, ini bisa menjadi dasar edukasi publik hingga penguatan diplomasi budaya,” pungkasnya.

Editor : Abdul Wakhid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network