Nyepi dan Takbiran Hampir Bersamaan, Desa Balun Lamongan Tunjukkan Harmoni Umat Beragama

Ahmad Zainuri
Ogoh-ogoh dibuat menggunakan rangka bambu yang kemudian dilapisi berbagai bahan seperti kertas koran, kertas semen, dan tisu sebelum akhirnya dicat agar terlihat lebih hidup. (Foto: Istimewa)

TURI, iNewsLamongan.id - Semangat toleransi antarumat beragama kembali terlihat di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, menjelang perayaan Hari Raya Nyepi 2026. Warga dari berbagai latar belakang agama bergotong royong menyiapkan ogoh-ogoh yang akan dipamerkan dalam pawai budaya di Alun-alun Desa Balun.

Di desa yang dikenal sebagai “Desa Pancasila” ini, umat Hindu, Islam, dan Kristen terlibat bersama dalam proses pembuatan patung ogoh-ogoh yang menjadi simbol pembersihan diri dari sifat buruk menjelang Nyepi.

Salah satu pembuat ogoh-ogoh, Wisnu Adi Pramono, mengatakan hingga Senin (16/3/2026) proses pengerjaan enam ogoh-ogoh berukuran besar telah mencapai sekitar 85 persen.

Menurutnya, tahun ini pengerjaan dilakukan dalam waktu relatif singkat, karena keputusan pembuatan baru disepakati sekitar satu bulan lalu.

“Biasanya pembuatan ogoh-ogoh memakan waktu tiga sampai empat bulan. Tahun ini hanya sekitar satu bulan, jadi kami harus bekerja lebih cepat. Tapi kami optimistis semuanya selesai sebelum pawai besok,” ujar Wisnu.

Yang menarik, proses pembuatan patung raksasa tersebut tidak hanya dilakukan oleh umat Hindu. Warga Muslim dan Kristen juga ikut membantu, terutama pada tahap awal pengerjaan yang membutuhkan banyak tenaga.

“Kami bekerja bersama. Warga dari agama lain juga ikut membantu, terutama saat membuat kerangka dan tahap awal pengerjaan,” tambahnya.

Secara teknis, ogoh-ogoh dibuat menggunakan rangka bambu yang kemudian dilapisi berbagai bahan seperti kertas koran, kertas semen, dan tisu sebelum akhirnya dicat agar terlihat lebih hidup.

Untuk satu ogoh-ogoh berukuran besar, biaya pembuatannya diperkirakan berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp3 juta. Selain enam ogoh-ogoh besar, warga juga menyiapkan beberapa ogoh-ogoh berukuran kecil yang dibuat khusus untuk anak-anak sekolah dasar.

Perayaan Nyepi tahun ini juga bertepatan dengan momentum malam takbiran umat Muslim yang diperkirakan berlangsung pada 19 Maret 2026. Namun, warga Desa Balun menilai perbedaan tersebut justru menjadi wujud nyata kerukunan yang telah lama terjaga.

Koordinasi pun telah dilakukan antara pengurus pura, takmir masjid, serta tokoh gereja agar seluruh rangkaian ibadah dapat berjalan dengan baik dan saling menghormati.

Wisnu menegaskan, sikap saling menghargai sudah menjadi tradisi turun-temurun di desa tersebut.

“Di sini kami sudah terbiasa hidup berdampingan. Kalau umat Muslim melakukan takbiran keliling, silakan. Kami yang menjalankan Nyepi juga tetap fokus pada ibadah kami. Semuanya bisa berjalan bersama,” jelasnya.

Rencananya, pawai ogoh-ogoh akan digelar pada Rabu (18/3/2026) di Alun-alun Desa Balun. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan umat Hindu, tetapi juga menjadi daya tarik budaya sekaligus simbol kuatnya kerukunan masyarakat di Desa Balun, Lamongan.

Warga Lamongan dan daerah sekitar pun diundang untuk menyaksikan langsung pawai tersebut, yang setiap tahunnya selalu menghadirkan suasana meriah sekaligus memperlihatkan indahnya toleransi antarumat beragama.

Editor : Abdul Wakhid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network