Kisah Remaja Penjual Polo Pendem di Babat yang Putus Sekolah, Berjuang demi Ibu Pengidap Kanker Usus
BABAT, iNewsLamongan.id - Di usia yang baru menginjak 16 tahun, Ilham Putra Marselino harus menghadapi kenyataan pahit yang tak seharusnya ditanggung anak seusianya. Demi membantu perekonomian keluarga dan biaya pengobatan sang ibu yang menderita kanker usus, remaja asal Desa Karang Kembang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, rela meninggalkan bangku sekolah dan bekerja mencari nafkah.
Di saat teman-teman seusianya sibuk belajar dan mengejar cita-cita, Ilham yang akrab disapa Marsel justru menghabiskan hari-harinya berjualan jajanan tradisional polo pendem di kawasan Tugu Wingko Babat, tepatnya di sekitar Jalan Gotong Royong.
Di tengah lalu lalang kendaraan, ia dengan sabar menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang melintas. Bukan untuk memenuhi keinginan pribadi, setiap rupiah yang diperolehnya dikumpulkan demi membantu keluarga bertahan di tengah kesulitan ekonomi dan perjuangan sang ibu melawan penyakitnya.
Marsel mengaku sebenarnya masih ingin bersekolah. Ia terpaksa berhenti saat duduk di kelas XI SMK karena kondisi ekonomi keluarga yang semakin sulit, terlebih setelah ibunya, Sumarlik, divonis menderita kanker usus beberapa bulan lalu.
“Ya, saya sebetulnya masih ingin sekolah. Cuma karena keadaan ekonomi keluarga kurang dan ibu juga sedang sakit kanker usus, jadi saya memilih untuk bekerja dulu. Uangnya bisa buat hidup keluarga,” tutur Marsel saat ditemui di tempatnya berjualan pada 17 Oktober 2026 malam.
Cobaan yang dialami Marsel semakin berat karena ayah kandungnya telah lama meninggal dunia. Kini, ia tinggal bersama sang ibu dan ayah sambungnya yang bekerja sebagai sopir lepas dengan penghasilan tidak menentu.
Ayah sambungnya hanya memperoleh sekitar Rp50.000 hingga Rp75.000 per hari. Penghasilan tersebut harus digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sementara Sumarlik membutuhkan pengobatan dan kontrol rutin ke rumah sakit setiap dua minggu sekali.
Selama ini, Sumarlik menjalani pengobatan menggunakan BPJS Kesehatan mandiri yang iurannya harus dibayar setiap bulan. Kondisi kesehatannya yang semakin melemah membuatnya tidak lagi mampu bekerja seperti sebelumnya.
Situasi itu mendorong Marsel mengambil keputusan berat. Ia meninggalkan sekolah tanpa sempat mengurus cuti maupun pengunduran diri secara resmi, lalu memilih bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Setiap hari, Marsel berjualan polo pendem milik orang lain di kawasan pertigaan Tugu Wingko Babat. Dari pekerjaannya itu, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp35.000 hingga Rp40.000 per hari.
Uang hasil jerih payahnya tidak langsung dihabiskan. Marsel mengumpulkannya selama sebulan sebelum menyerahkannya kepada sang ibu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun, penghasilan tersebut masih jauh dari cukup. Untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, keluarga mereka terkadang harus meminta bantuan saudara. Begitu pula untuk membayar tagihan listrik agar rumah mereka tetap mendapat penerangan.
“Sehari-hari terkadang saya harus meminta beras ke kakak untuk kebutuhan harian. Untuk membayar tagihan listrik agar rumah tetap mendapat penerangan, kami juga masih kerap dibantu saudara,” ungkap Marsel.
Di balik kesibukannya mencari nafkah, Marsel masih menyimpan mimpi yang sederhana, tetapi begitu berarti baginya: kembali mengenakan seragam sekolah, duduk di bangku kelas, dan melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Ia mengetahui ada temannya yang mengalami nasib serupa, yakni Reno, penjual polo pendem yang mendapat beasiswa sehingga bisa kembali melanjutkan pendidikan. Kisah tersebut membuat Marsel berharap suatu hari nanti dirinya juga memperoleh kesempatan yang sama.
Bagi Marsel, kembali bersekolah bukan sekadar keinginan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Ia juga ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus memadamkan cita-cita seorang anak.
Sementara itu, Sumarlik, saat ditemui di rumahnya oleh iNewsLamongan.id, berharap pemerintah dapat membantu mengaktifkan kembali Kartu Indonesia Sehat (KIS) miliknya agar ia bisa memperoleh keringanan biaya pengobatan. Ia juga berharap anaknya mendapatkan beasiswa sehingga dapat kembali mengenyam pendidikan.
“Saya mempunyai Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), tetapi sudah lama tidak aktif,” tutur Sumarlik.
Di tengah perjuangan melawan penyakit dan keterbatasan ekonomi, Sumarlik tak hanya berharap kesehatannya membaik. Ia juga ingin melihat putranya kembali bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih cerah.
Bagi Marsel, setiap hari yang dihabiskan di tepi jalan bukan sekadar perjuangan mencari uang. Ada seorang ibu yang ingin ia bantu, ada keluarga yang ingin ia kuatkan, dan ada cita-cita yang diam-diam masih ia jaga: kembali ke bangku sekolah.
Editor: Abdul Wakhid