get app
inews
Aa Text
Read Next : Masuk Musim Hujan Warga Lamongan Berburu Jas Hujan

Harga Sapi Terus Naik, Pedagang Daging Lamongan Mogok Jual Tiga Hari

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:34 WIB
header img
Suasana salah satu lapak pedagang daging sapi di pasar Sidoharjo yang tutup Akibat omzet pedagang tergerus hingga 30–40 persen. (Foto: M Bangkit)

LAMONGAN, iNewsLamongan.id - Penurunan daya beli masyarakat akibat lonjakan harga daging sapi membuat pedagang eceran di Kabupaten Lamongan mengambil langkah yang tidak biasa. Sebanyak 18 hingga 19 pedagang memilih menutup lapak selama tiga hari sebagai bentuk respons terhadap kenaikan harga yang terus terjadi.

Aksi tersebut dilakukan oleh pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan. Mereka berasal dari Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made.

Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan, Bagus Budi Raharjo, mengatakan keputusan menghentikan aktivitas berjualan diambil setelah para pedagang menggelar musyawarah menyusul kenaikan harga sapi hidup dari pemasok pada Minggu (12/7).

"Jadi para pedagang kemarin Senin itu merespons kenaikan sapi itu kita berkumpul, ya atas nama paguyuban itu kumpul untuk berdiskusi mencari jalan keluar. Di tengah khawatir kondisi banyak yang pelanggan belum siap, komplain, kita sepakat itu untuk libur dalam tiga hari ke depan itu semata-mata untuk supaya ada ketenangan secara psikologis," ujar Bagus, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, kebijakan tersebut bukan aksi protes, melainkan upaya meredam gejolak di pasar. Setiap kali harga jual dinaikkan mengikuti harga dari jagal, banyak pelanggan mengeluhkan kenaikan tersebut bahkan membatalkan pembelian.

Dalam enam bulan terakhir, harga daging sapi sistem karkas telah mengalami lima kali kenaikan. Dari semula sekitar Rp110.000 per kilogram pada awal tahun, kini melonjak menjadi Rp130.000 per kilogram di tingkat jagal.

Bagus menyebut kondisi seperti ini baru pertama kali terjadi dalam satu dekade terakhir. Lonjakan harga yang terus berulang membuat pedagang kesulitan mempertahankan pelanggan.

Dampaknya, masyarakat mulai beralih ke sumber protein lain yang lebih murah, terutama daging ayam. Pergeseran pola konsumsi itu membuat penjualan daging sapi terus menurun.

Akibatnya, omzet pedagang ikut tergerus hingga 30–40 persen. Mereka berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga agar aktivitas perdagangan kembali normal dan daya beli masyarakat dapat pulih.

Editor : Abdul Wakhid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut