Berburu Lailatul Qadar di Masjid Namira Lamongan, Ribuan Jamaah Iktikaf dan Sahur Bersama
TIKUNG, iNewsLamongan.id - Masjid Namira di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, menjadi salah satu tujuan warga untuk berburu malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Takmir masjid menyediakan berbagai fasilitas bagi jamaah yang ingin melakukan iktikaf, mulai dari tempat beristirahat hingga makan sahur bersama.
Meski tidak seramai dua tahun lalu, suasana iktikaf di Masjid Namira pada dua hari terakhir Ramadan masih cukup ramai dengan kehadiran para jamaah.
Salah seorang takmir Masjid Namira, Haji Tarjo, mengatakan jumlah peserta iktikaf tahun ini memang mengalami penurunan dibanding Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya.
"Mungkin karena sekarang sudah banyak masjid yang menyediakan fasilitas iktikaf, sehingga jamaah di Masjid Namira sedikit berkurang," ujar Haji Tarjo, Kamis dini hari (12/3/2026).
Di Masjid Namira, jamaah yang ingin mengikuti iktikaf penuh dengan menginap di dalam masjid diwajibkan melakukan registrasi terlebih dahulu. Takmir membatasi jumlah peserta iktikaf yang menginap maksimal 100 orang.
Rangkaian ibadah malam dimulai dari salat Isya, dilanjutkan salat Tarawih berjamaah. Memasuki tengah malam, jamaah kembali berkumpul untuk melaksanakan salat malam berjamaah.
Imam salat malam di Masjid Namira dikenal memiliki bacaan Al-Qur’an yang fasih dan suara yang merdu. Bahkan Syeh Murad, Salah seorang imam sholat berkebangsaan Yaman dan memiliki nada yang khas. Hal ini membuat jamaah semakin khusyuk menjalankan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama saat berharap bertemu malam Lailatul Qadar.
Setiap malam, jumlah jamaah yang mengikuti salat malam mencapai sekitar 1.500 hingga 2.000 orang. Pada malam-malam ganjil, jumlah jamaah biasanya meningkat lebih banyak dibanding malam lainnya.
Usai salat malam, takmir masjid menyediakan makan sahur bersama bagi para jamaah.
Menurut Haji Tarjo, setiap Ramadan pihak takmir menyiapkan konsumsi sahur dalam jumlah besar. Untuk keperluan tersebut, panitia biasanya menyembelih satu ekor sapi dan menghabiskan sekitar 1,6 ton beras.
"Untuk sahur biasanya kita menyembelih satu ekor sapi dan menghabiskan sekitar satu ton enam kuintal beras," jelasnya.
Menu sahur yang disajikan pun beragam, mulai dari rawon, soto hingga sup hangat yang dinikmati bersama ribuan jamaah. Suasana makan sahur berjamaah ini menjadi pengalaman tersendiri bagi para jamaah yang menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan.
Masjid Namira sendiri merupakan milik Haji Helmi, seorang pengusaha yang dikenal memiliki beberapa SPBU. Masjid ini menjadi salah satu masjid ikonik di Lamongan.
Keistimewaan Masjid Namira terletak pada bagian mihrab yang dihiasi kiswah Ka'bah asli. Selain itu, arsitektur masjid yang indah serta suasana yang nyaman membuat banyak jamaah selalu rindu kembali beribadah di tempat ini, terutama pada malam-malam terakhir Ramadan untuk berburu malam Lailatul Qadar.
Editor : Abdul Wakhid