Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 171 Atlet dari 28 Camp Siap Adu Kekuatan di Lamongan Muaythai Championship I 2026
Advertisement . Scroll to see content

Lima Desa Jadi Sentra Garam Lamongan, 293 Petambak Bidik Produksi 20.000 Ton

Rabu, 16 September 2026 | 18:37 WIB
  • author Ahmd Zainuri
Lima Desa Jadi Sentra Garam Lamongan, 293 Petambak Bidik Produksi 20.000 Ton
Di Lamongan terdapat 293 petambak yang tergabung dalam 26 Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) dengan luas lahan mencapai 217,33 hektare. (Foto: Istimewa)

LAMONGAN, iNewsLamongan.id - Sebanyak 293 petambak garam di lima desa Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, mengelola lahan tambak garam seluas 217,33 hektare. Para petambak yang tergabung dalam 26 Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) tersebut ditargetkan mampu menghasilkan 20.000 ton garam sepanjang 2026.

Lima desa yang menjadi sentra produksi garam Lamongan itu yakni Sedayulawas, Lohgung, Labuhan, Brengkok, dan Sidomukti. Hingga Agustus 2026, produksi garam dari sentra tersebut baru mencapai 1.317,18 ton.

Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan optimistis produksi akan terus meningkat karena puncak musim produksi diperkirakan berlangsung pada Oktober dan November. Periode tersebut menjadi momentum penting untuk mengejar target produksi garam sebesar 20.000 ton dalam setahun.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan Joko Nursiyanto mengatakan, produksi garam sangat dipengaruhi kondisi musim. Masa produksi berlangsung relatif singkat, sementara Juli biasanya dimanfaatkan petambak untuk melakukan persiapan lahan.

“Produksi garam memang memiliki musim yang relatif singkat. Mulai Agustus hingga Desember, dengan puncak produksi biasanya terjadi pada tribulan IV, terutama Oktober dan November. Karena itu, kami optimistis produksi akan terus meningkat seiring kondisi produksi yang semakin optimal,” kata Joko saat ditemui di Kantor Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan, Rabu (16/9/2026).

Selain mengejar peningkatan produksi, perkembangan harga garam juga menjadi perhatian. Pada September 2026, harga garam mencapai sekitar Rp1.500 per kilogram, meningkat dibandingkan Agustus yang berada di kisaran Rp1.000 per kilogram.

Meski demikian, usaha garam rakyat masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya kerusakan sarana dan prasarana produksi, anomali cuaca, fluktuasi harga garam, serta keterbatasan regenerasi petambak.

Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, Dinas Perikanan Lamongan terus memberikan pembinaan dan pelatihan kepada petambak sekaligus memfasilitasi sarana dan prasarana produksi.

Dukungan tersebut antara lain berupa sosialisasi perizinan pemanfaatan ekstraksi garam, pembinaan peningkatan kualitas produksi, serta fasilitasi sarana produksi.

Pada 2026, Dinas Perikanan Lamongan juga memberikan bantuan 40 gerobak sorong dan 40 pasang sepatu booth kepada petambak. Sementara itu, sebanyak 28 roll geomembran difasilitasi untuk Desa Brengkok, Kecamatan Brondong, yang merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2025.

Joko menegaskan, pembinaan dan dukungan sarana produksi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga keberlanjutan usaha garam rakyat sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas garam Lamongan.

“Kami terus memberikan pembinaan, pelatihan, serta dukungan sarana dan prasarana produksi kepada petambak. Harapannya, produktivitas dan kualitas garam Lamongan semakin baik, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan petambak,” tegasnya.

Editor: Abdul Wakhid

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut