Berkah Kemarau, Harga Tembakau Lamongan Tembus Rp50 Ribu per Kilogram
KEDUNGPRING, iNewsLamongan.id - Musim kemarau yang stabil membawa berkah bagi petani tembakau di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kondisi cuaca yang mendukung membuat proses budi daya hingga pengeringan tembakau berjalan optimal, sehingga kualitas hasil panen meningkat. Harga tembakau kering jenis Jawa bahkan sempat menembus Rp50.000 per kilogram.
Meski demikian, harga jual tembakau di tingkat petani masih bergantung pada kualitas daun, hasil rajangan, rendemen, serta standar pembelian perusahaan. Untuk kualitas tertentu, harga tembakau kering belakangan berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.
Ahmad, petani tembakau asal Kecamatan Kedungpring, Lamongan, mengatakan kualitas menjadi faktor utama yang menentukan tinggi rendahnya harga jual tembakau. Menurutnya, tembakau dengan kualitas bagus dapat dihargai hingga Rp50.000 per kilogram.
Ia menjelaskan, petani biasanya mengenali kualitas tembakau melalui warna dan aroma setelah proses pengeringan. Warna yang baik dan aroma yang khas menjadi salah satu indikator tembakau memiliki nilai jual tinggi.
"Kualitas tersebut juga menentukan apakah hasil panen dapat diterima oleh pembeli atau perusahaan mitra dengan harga yang diharapkan petani," kata Ahmad.
Ahmad berharap pemerintah memperkuat koordinasi dengan perusahaan pembeli agar harga tembakau lebih terjaga setiap musim panen. Menurutnya, kebutuhan bahan baku tembakau untuk industri rokok masih tinggi sehingga kualitas hasil panen perlu terus ditingkatkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan, Mugito, mengatakan kualitas rajangan dan rendemen menjadi faktor penting dalam menentukan nilai jual tembakau.
Menurut Mugito, kondisi musim kemarau yang mendukung turut membantu petani menjalankan proses budi daya secara lebih optimal. Hal tersebut berdampak pada peningkatan kualitas hasil panen tembakau di Lamongan.
Untuk meningkatkan kemampuan petani, Pemkab Lamongan terus melakukan pendampingan melalui berbagai pelatihan, mulai dari grading atau penilaian kualitas tembakau, pemilihan benih, pembibitan, hingga pengolahan hasil panen.
"Melalui pendampingan, petani diharapkan mampu mengenali kualitas tembakau secara mandiri dan memiliki posisi tawar yang lebih baik saat bernegosiasi dengan pembeli," ujar Mugito.
Dengan kualitas produksi yang terus ditingkatkan, berkah musim kemarau diharapkan dapat memberikan keuntungan yang lebih baik bagi petani tembakau Lamongan pada musim panen berikutnya.
Editor: Abdul Wakhid