Avtur dan Dolar Melonjak, Travel Umrah Lamongan Terpaksa Sesuaikan Harga
LAMONGAN, iNewsLamongan.id - Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) mulai memberikan tekanan serius terhadap industri travel umrah dan haji di daerah. Kondisi ini memaksa para penyelenggara perjalanan ibadah melakukan berbagai penyesuaian untuk mengendalikan biaya operasional yang terus meningkat.
Wakil Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), Rizky Amelia, mengatakan fluktuasi kurs dolar saat ini berdampak langsung pada biaya penyelenggaraan umrah.
"Dolar yang sebelumnya berada di kisaran Rp16.800 kini mencapai Rp18.100. Dari kenaikan kurs tersebut saja, terdapat tambahan biaya sekitar Rp2,8 juta hingga Rp3 juta per jemaah," ujar Amelia, Sabtu (6/6/2026).
Direktur Utama Elaf Travel itu menjelaskan, selain pelemahan rupiah terhadap dolar AS, kenaikan harga avtur juga semakin membebani operasional maskapai penerbangan yang melayani rute umrah.
Menurutnya, biro perjalanan di Jawa Timur menghadapi tantangan lebih besar karena mayoritas penerbangan umrah dari Surabaya menggunakan sistem penerbangan langsung (charter) menuju Jeddah atau Madinah tanpa transit, sehingga biaya operasionalnya relatif lebih tinggi dibandingkan keberangkatan dari Jakarta.
"Kenaikan biaya avtur bersifat nasional. Untuk maskapai Lion sekitar Rp5 juta, Garuda Rp7 juta, dan Saudi Airlines mencapai Rp7,5 juta hingga Rp8 juta. Karena itu, penyesuaian harga paket tidak dapat dihindari," jelasnya.
Di Elaf Travel, kata Amelia, penyesuaian harga paket umrah dilakukan untuk menutup kenaikan biaya operasional. Meski demikian, minat masyarakat Lamongan dan sekitarnya untuk berangkat ke Tanah Suci tetap tinggi.
Berdasarkan data manifest keberangkatan Juli 2026, penurunan jumlah jemaah hanya sekitar 10 persen. Bahkan hingga saat ini belum ada jemaah yang membatalkan keberangkatan akibat kenaikan biaya tersebut.
"Alhamdulillah, jemaah yang mendaftar untuk keberangkatan Juli tetap stabil dan tidak ada yang mengundurkan diri. Mereka memahami kondisi ekonomi global saat ini," katanya.
Amelia menilai sebagian besar jemaah masih mengutamakan kualitas layanan dan kenyamanan selama menjalankan ibadah umrah.
"Semua kembali pada kualitas layanan. Jemaah tetap menginginkan fasilitas yang baik dan mereka dapat menerima penyesuaian biaya karena nilainya masih dianggap wajar dan terjangkau," pungkasnya.
Editor : Abdul Wakhid