Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Persela Lamongan Tak Ciut Hadapi Dua Klub Super League di League Cup
Advertisement . Scroll to see content

Jejak Seribu Tahun Pertanian di Lamongan, Warisan Agraris dari Era Airlangga

Senin, 11 Mei 2026 | 14:06 WIB
  • author Abdul Wakhid
Jejak Seribu Tahun Pertanian di Lamongan, Warisan Agraris dari Era Airlangga
Replika prasasti Baru di Kecamatan Sambeng. (Foto: Istimewa)

SAMBENG, iNewsLamongan.id - Hamparan sawah di Lamongan mulai kembali hijau. Musim tanam kedua perlahan menghidupkan aktivitas para petani di berbagai desa. Di balik pemandangan yang tampak biasa itu, tersimpan jejak panjang sejarah agraris yang telah tumbuh sejak ribuan tahun lalu.

Lamongan yang kini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional ternyata memiliki akar pertanian yang sangat tua. Jejak tersebut terekam dalam berbagai prasasti peninggalan masa Kerajaan Kahuripan di era Raja Airlangga hingga masa Majapahit.

Pemerhati sejarah Lamongan, Supriyo, mengatakan tradisi agraris masyarakat Lamongan sudah berkembang kuat sejak masa Airlangga pada abad ke-11. Hal itu terlihat dari sejumlah prasasti yang ditemukan di wilayah Lamongan dan sekitarnya.

“Di hampir semua prasasti masa Airlangga yang ditemukan di Lamongan seperti Prasasti Cane, Patakan, Baru hingga Selorejo atau Bularuk disebutkan soal perdagangan beras dan ternak. Itu menunjukkan kawasan ini sejak dahulu memang wilayah agraris yang kuat,” ujar Supriyo, Senin (11/5/2026).

Dalam sejumlah prasasti tersebut muncul istilah adagāṅ bras yang berarti perdagangan beras. Istilah ini menjadi petunjuk penting bahwa kawasan Lamongan kala itu telah menghasilkan surplus pangan.

Keberadaan perdagangan beras menunjukkan hasil panen masyarakat tidak hanya cukup untuk kebutuhan sendiri, tetapi juga diperdagangkan ke wilayah lain. Kondisi itu menandakan sistem pertanian masyarakat pada masa tersebut sudah berkembang, termasuk pengelolaan irigasi dan pola kehidupan desa pertanian.

Tak hanya soal padi, prasasti-prasasti kuno juga mencatat aktivitas peternakan masyarakat. Dalam catatan kuno ditemukan istilah kbo untuk kerbau dan wdus yang berarti kambing.

Bagi masyarakat agraris masa lampau, ternak memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Kerbau digunakan untuk membajak sawah, sementara sapi dan kambing menjadi penopang ekonomi rumah tangga desa.

“Pertanian masa itu tidak berdiri sendiri. Sawah, peternakan, dan perdagangan saling terhubung membentuk ekonomi desa yang stabil,” jelas Supriyo.

Jejak agraris Lamongan kemudian terus berkembang hingga masa Majapahit. Jika pada era Airlangga wilayah ini dikenal sebagai sentra produksi pangan, maka pada masa Majapahit kawasan Lamongan mulai terhubung dengan jaringan perdagangan komoditas bernilai tinggi.

Hal tersebut tercatat dalam Prasasti Biluluk II yang menyebut berbagai komoditas perdagangan seperti sahaṅ atau merica, kapulaga, cabe Jawa, kemukus hingga kapas.

Pada masa itu, rempah-rempah merupakan komoditas penting dalam perdagangan Nusantara. Catatan tersebut memperlihatkan masyarakat agraris di kawasan Lamongan tidak hanya mengandalkan hasil sawah, tetapi juga perkebunan dan perdagangan hasil bumi.

Sementara keberadaan kapas dalam prasasti menunjukkan kemungkinan berkembangnya aktivitas kerajinan tekstil di lingkungan masyarakat desa pada masa Majapahit.

“Prasasti Biluluk II menunjukkan ekonomi agraris Majapahit sudah maju. Tidak hanya padi, tetapi juga rempah-rempah dan hasil perkebunan ikut diperdagangkan. Itu menandakan wilayah Lamongan dan sekitarnya masuk jalur ekonomi penting pada masa itu,” terang Supriyo.

Predikat Lamongan sebagai lumbung pangan nasional saat ini pun dinilai bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Status tersebut merupakan kesinambungan sejarah panjang yang telah berlangsung sejak masa kerajaan kuno di Jawa Timur.

Sawah-sawah yang kini membentang di Lamongan bukan hanya ruang produksi pangan modern, tetapi juga bagian dari warisan panjang peradaban agraris Nusantara.

Setiap musim tanam yang datang seolah menjadi pengingat bahwa sejak masa Airlangga, Majapahit, hingga Indonesia modern, Lamongan tetap menjadi tanah yang menumbuhkan kehidupan.

Editor: Abdul Wakhid

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut